Magelang..
Sebuah kata dan sebuah tempat yang yang memiliki beribu arti bagi kami, “anak – anak’’ yang pernah membuka mata untuk pertama kalinya di sana, yang kini terdampar di perantauan.
Dulu, semua terasa biasa saja. Aku terbangun di pagi hari, mandi di kali Elo dan pulang kembali ketika sinar – sinar jingga menembus sela – sela batang bambu, dan burung Ssalakan yang tak berhenti bersiul di atas pucuk ranting- ranting tirai alam. Dan aku keluar dari pintu depan dengan seragam putih merah. Enam tahun kemudian aku keluar dari pintu yang sama dengan seragam putih biru, dan tiga tahun kemudian dari lubang yang sama aku keluar dengan seragam putih abu – abu. Begitulah tahun ke tahun berlalu sehingga jika saja aku bertambah tinggi 20lagi, kepalaku akan terbentur pintu itu ketika keluar rumah.
Dan disuatu sore dengan sebuah tujuan untuk bisa tetap hidup tanpa bergantung, bahkan untuk bisa tinggal dipucuk ranting bambu seperti burung salakan, aku tinggalkan bumiku. Berbekal setumpuk kenangan dan harapan dalam tas di punggungku kuberanjak pergi. Kutinggalkan saudara, kawan, bahkan kekasih yang di kemudian hari begitu membenciku karenanya. Sebuah pengorbanan besar harus kuberikan, dan tak begitu kusadari waktu itu.
Hari kian malam dan kian jauh kutinggalkan kotaku. Dan hari telah pagi ketika aku terdampar disini. Jauh dari Magelang, sendiri hari ini kumulai hidupku dikota sekecil Magelang yang kemudia hari kutahu hamparan sawahnya lebih luas dari Magleang, yang pagi harinya lebih hangat dari Magelang, dan siangnya pun lebih panas dari Magelang. Karawang 850.000ha dengan 80%persawahan di hamparanya.
Waktu terus berlalu dan sore ini seperti sore itu setelah bertahun – tahun kemudian. Matahati kian tenggelam ketika untuk kesekian kalinya aku merasa bahwa telah meninggalkan sesuatu yang begitu berharga bertahun lalu. Kota yang sejuk diantara 5 gunung dan gemericik air yang tak pernah berhenti mengalir. Hari yang damai tanpa hiruk pikuk dan angin semilir yang mengusik manja ranting – rantng rambutan.
Magelang..
Sebuah kata yang ketika di sebutkan mampu membangkitkan kerinduan yang teraaamat sangat. Mengingatkan kembali akan hawa yang sejuk sepanjang hari, sepanjang musim. Mengingatkan kembali akan tutur sapa setiap orang yang kita jumpai di setiap sisi dan di setiap sudut. Dan akhinya mengingatkan kembali akan halaman rumah yang luas dengan beberapa pohon rambutan di tengahnya dan berpagar pohon the – tehan (titian) di tepi jalan desa yang lengang. Dan daun pintu kayu itu kini condong ke kiri. Tumpukan balok disampingnya tak bergeser semakin licin layaknya kursi marmer tempat bersantai di sore hari. Hanya sudut atap yang gentengya hilang 2 buah, jatuh kesambar ayam yang terbang di kejar anak tetangga. Pasti begitu seperti dulu. Yah.. tentang rumah kita. Yang masih terlindung rimbunan pohon bambu di belakang pawon.
Kemudian sesosok ibu tua membuka pintu tanpa sempat kita mengetuknya terlebih dahulu seolah sebuah firasat tlah membisikan kedatangan kita. Sepasang matanya yang agak rabun mendadak berbinar menyambut kedatangan anaknya yang baru pulang dari tempat jauh.
Air mata yang mengalir di pipi keriputnya jatuh di atas rambutku. Aku yang hanya mampu tertunduk bersimpuh dipangkunya. Kubenamkan wajah pada kain batik yang tlah menguning. Kuterima usap tulus yang membuat bibirku tak mampu sedikitpun berucap meski itu sekedar kata maaf.
Sinar jingga menembus sela – selah pagar gédhék, menimbulkan garis panjang hingga lantai tanah rumahku. Angin sore masih terus berhembus menggoyangkan pucuk bambu dan daun jambu. Sayup – sayup adzan di kejauhan mengiringi mekarnya bungan asar sore dan tak ada yang lain lagi selain sesekali induk ayam berkukur memanggil anaknya ketika menemukan sarang rayap di bawah dedaunan kering dan anak anak kecil bermain petak umpet. Shimphoni ini terus mengalun sementara aku duduk di sofa tumpukan balok, melihat segala fenomena, mendengar setiap suara yang kukenal, dan akan selalu terngiang.
dan lembayung jingga kian memerah di ufuk barat.
Dan kuninginkan damai ini tak pernah berakhir.
dan ku slalu merindumu..

